Minggu, 18 November 2012

Free ETRADING Software

( Sumber Analisis Independen )

Metrodata Electronics
Setiap tiga bulan sekali, yakni setiap para emiten merilis laporan keuangan terbaru mereka, penulis terbiasa mencari saham-saham yang memiliki kinerja perusahaan alias fundamental yang bagus, namun valuasinya masih murah. Jika nggak ketemu saham yang seperti itu, yaitu biasanya ketika IHSG lagi tinggi seperti sekarang, maka kriterianya diperlonggar menjadi 1. Saham bagus dengan valuasi yang belum begitu mahal, atau 2. Saham yang nggak jelek-jelek amat namun valuasinya cukup murah. Nah, Metrodata Electronics (MTDL) adalah salah satu saham yang kalau berdasarkan kinerjanya di Sembilan bulan 2012 (9M12), bisa digolongkan sebagai saham yang masuk kriteria kedua.

MTDL adalah perusahaan penyedia jasa dan produk-produk information and communication technology (ICT), baik dalam bentuk hardware, software, maupun jasa konsultasi, dimana penjualan hardware (komputer, printer, dll) merupakan kontributor terbesar yang menyumbang 76.2% dari total pendapatan perusahaan pada 9M12. Namun, MTDL tidak mengembangkan atau memproduksi produk-produk teknologinya sendiri, melainkan menjual produk ICT milik perusahaan lain, sehingga MTDL lebih cocok disebut sebagai perusahaan dagang alias ritel. Beberapa merk produk yang dijual oleh perusahaan adalah Adobe, Oracle, Microsoft, hingga Samsung.

Sejatinya, MTDL sudah berdiri sejak tahun 1975, namun perusahaan baru masuk penuh ke bisnis ICT pada tahun 2008 dengan mengakuisisi Soltius Asia Pte Ltd, sebuah perusahaan konsultan system application and products in data processing (SAP), yang dilanjutkan dengan akuisisi dan pendirian beberapa perusahaan ICT lainnya, seperti Xerindo, Synnex, dan MyIcon Technology. Saat ini MTDL boleh dikatakan sebagai perusahaan distributor produk-produk ICT terbesar di Indonesia.

Oleh BEI, MTDL diklasifikasikan sebagai perusahaan teknologi komputer dan jasa, atau satu kelompok dengan Astra Graphia (ASGR). Pemegang saham utama MTDL adalah Candra Ciputra, putra dari pengusaha properti terkenal, Ir. Ciputra.

Nah, karena model bisnisnya sendiri nggak terlalu umum, maka agak sulit untuk memperoleh gambaran soal prospek dari MTDL ini. Namun yang jelas untuk ukuran perusahaan retail, kinerja MTDL cukup baik dengan ROE 14.2%, dan pertumbuhannya cukup lancar dengan catatan kenaikan pendapatan dan laba bersih masing-masing 23.6 dan 51.9%. Salah satu pendukung pertumbuhan tersebut adalah penambahan jumlah toko retail dimana perusahaan bekerja sama dengan Carefour. Pada periode Januari – Juni 2012, MTDL sudah mendirikan 22 outlet baru yang tersebar di beberapa kota di Indonesia, dengan target 35 outlet pada akhir tahun 2012. Produk yang dijual di outlet-outlet tersebut kebanyakan merupakan komputer PC, hardware pendukungnya, dan juga gadget, dengan portofolio merk yang cukup luas yakni Asus, Dell, Epson, Fujitsu, Panasonic, Intel, HP, Lenovo, Huawei, Sony Xperia, dan Samsung. Well, ini mengingatkan penulis dengan perusahaan dagang lainnya yaitu Erajaya Swasembada (ERAA), dimana kalau ERAA lebih fokus pada penjualan gadget, maka MTDL lebih fokus pada penjualan komputer desktop dan notebook. Namun persamaannya adalah, kedua perusahaan sama-sama tidak tergantung pada satu merk produk tertentu.

Terkait aksi korporasi, Pada Mei 2012 lalu MTDL sempat berniat melakukan right issue dengan menerbitkan saham baru sebanyak total 1.3 milyar lembar senilai Rp155 milyar, dimana dananya akan digunakan untuk menambah penyertaan modal pada dua anak usahanya, Synnex dan Mitra Integrasi Informatika. Namun rencana tersebut batal dan diganti dengan mencari pinjaman bank (tapi sampai sekarang perusahaan belum mencairkan pinjaman apapun), dimana manajemen MTDL mengatakan bahwa mereka memiliki pinjaman bank sebesar US$ 70 juta atau sekitar Rp650 milyar yang belum dicairkan. Ini agak serem sebenernya, mengingat utang bank MTDL sudah mencapai Rp400 milyar lebih, belum termasuk utang sukuk sebesar Rp73 milyar. Namun sejauh ini beban bunga yang ditanggung perusahaan masih belum terlalu besar jika dibandingkan dengan laba kotor perusahaan (laba sebelum beban usaha, beban keuangan, dan pajak), sehingga bisa dikatakan bahwa jumlah utang MTDL masih wajar. Pada 9M12, MTDL mencatat laba kotor Rp302 milyar, sementara beban bunga yang berasal dari utang bank dan utang sukuk-nya tercatat Rp18 milyar.

Terus bagaimana dengan sahamnya? Nah, disinilah menariknya. Pada harga 154, PER MTDL tercatat 5.7 kali, dan PBV-nya 0.5 kali (tapi kalau kepemilikan minoritas atas perusahaan tidak dihitung, maka PBV MTDL yang benernya adalah 0.8 kali, tapi itu masih cukup rendah juga). Sementara jika anda perhatikan valuasi dari perusahaan-perusahaan ritel lain seperti ERAA, Ace Hardware (ACES), Hero Supermarket (HERO), hingga Mitra Adiperkasa (MAPI), rata-rata PER-nya cukup tinggi yakni diatas 10 kali. Termasuk jika dibandingkan dengan ASGR, maka MTDL juga terbilang murah mengingat PER ASGR mencapai 12.6 kali pada harga 1,330.

Terus apa yang menyebabkan valuasi MTDL jadi rendah begitu? Mungkin ada dua. Pertama, kinerja MTDL dalam jangka panjang cenderung tidak konsisten, dimana perusahaan baru mencatat pertumbuhan signifikan pada tahun 2012 ini. Sebelumnya pada tahun 2011 lalu, laba bersih MTDL turun dibanding tahun 2010 meski pendapatannya naik. Kedua, sektor usaha yang digeluti MTDL tampak rumit dan sulit dimengerti terutama bagi investor yang awam soal ICT (termasuk penulis juga sih), dimana MTDL menjual layanan konsultasi cloud computing, virtualization, system and network integration, supply chain management, websphere, dan seterusnya, dimana untuk membaca dan mengingat nama-nama layanan tersebut saja sudah terbilang susah.

Padahal bisnis inti MTDL, seperti yang sudah disebut diatas, adalah penjualan komputer biasa yakni PC Desktop dan Notebook. Sementara bisnis perdagangan software dan konsultasi ICT total hanya menyumbang seperempat dari seluruh pendapatan perusahaan. Untuk penjualan software dan konsultasi ICT, prospek pendapatan perusahaan memang lebih terbatas karena kebanyakan pembelinya merupakan korporasi. Namun untuk penjualan komputer, seharusnya angkanya akan terus meningkat karena konsumennya adalah pengguna komputer dan internet secara umum, mengingat pengguna komputer dan internet di Indonesia sendiri terus meningkat dari waktu ke waktu.

Karena itulah, meski dari sisi kinerja MTDL ini nggak sebagus ERAA atau ASGR, namun valuasinya yang rendah menjadikan saham ini cukup menarik. Kalau pakai hitung-hitungan sederhana, pada harga 200 pun saham MTDL ini masih terbilang wajar. So we have a chance here.

Lalu masuknya di harga berapa? Ya kalau dilihat dari pergerakan chart-nya dalam tiga bulan terakhir sih, coba antri di sekitar 145. Terus apa saja risikonya? Untuk saat ini belum ada risiko signifikan, namun hati-hati jika nanti perusahaan mengumumkan bahwa mereka mencairkan utangnya, dimana hal itu mungkin akan ditanggapi oleh sebagian investor yang kemudian memutuskan untuk keluar, dan kemudian mengakibatkan sahamnya jatuh.
 Disclamer ON

Minggu, 11 November 2012

Free trial ON LINE TRADING

(Vibiznews – Stock) PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) telah mengumumkan bahwa perseoran akan membagikan dividen interim dengan jumlah mencapai Rp 1,06 triliun atau sebesar Rp 43,5 per saham. Adapun tanggal cum dividen itu di pasar reguler dan pasar negosiasi jatuh pada 3 Desember 2012, sedangkan tanggal ex pada 4 Desember 2012 dan jadwal pembayaran dividen tersebut tertanggal 20 Desember 2012.
"BCA akan melaksanakan pembayaran dividen interim (sementara) sebesar Rp43,5 per saham," ujar Corporate Secretary BCA Inge Setiawati dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (12/11/2012). Pembayaran dividen interim BBCA berdasarkan laporan keuangannya per 30 September 2012. Di kuartal ketiga itu, saldo laba ditahan BBCA yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp 42,45 triliun. Sedangkan laba bersih tahun berjalannya mencapai Rp 8,28 triliun.
Pada perdagangan hari ini (12/11/2012) di bursa, BBCA cenderung bergerak flat di level 8.550. Analis Vibiz Research berpendapat bahwa secara keseluruhan, tren jangka panjang dari BBCA masih bergerak naik. Hal ini diperlihatkan oleh pergerakan EMA jangka panjang yang masih bergerak naik dan juga pergerakan MACD line mingguan yang masih positif.
Berdasarkan analisa di atas, analis Vibiz Research berpendapat bahwa untuk beberapa pekan ke depan, BBCA akan berpeluang untuk melanjutkan penguatannya walaupun pergerakan penguatannya agak terbatasi oleh kondisi saat ini yang sedang oversold. Target penguatan yang paling dekat terletak pada resistance jangka menengahnya yaitu di sekitar all time high sebelumnya di level 8.800-8.850, sedangkan level support diperkirakan terletak pada level 8.200-8.250.
(Hendrik Panca/HP/VBN)

Weekly IHSG Free ETRADING TRIAL..

IHSG

Pada minggu ini perdagangan IHSG hanya dalam tiga hari saja, dimana dilihat dari MACD Histogram masih berada di area negatif, sedangkan stochastic masih mengarah ke area uptrend namun sudah melemah, ini mencerminkan bahwa konsolidasi lanjutan bisa terjadi namun dalam range yang sempit sehingga masih dalam sentiment mixed.

Weekly Tecnical Outlook

Kamis, 08 November 2012

FREE ETRADING TRIAL

 Economy: BI Rate Tak Beranjak dari 5,75%


Bank Indonesia memutuskan untuk memper tahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75 persen. Hal ini didasari oleh
pertimbangan bahwa tingkat suku bunga tersebut dinilai masih konsisten dengan tekanan inflasi yang rendah dan terkendali. "Sesuai
dengan sasaran inflasi tahun 2012 dan 2013 yaitu 4,5 persen plus minus 1 persen," kata Direktur Eksekutif Departemen Perencanaan
Strategis dan Hubungan Masyarakat Dody Budi Waluyo di Gedung Bank Indonesia, Kamis (8/11). Selain itu, BI juga menilai tekana n
ketidakseimbangan eksternal yang melanda perekonomian Indonesia mulai mereda. Yaitu ditandai dengan defisit neraca transaksi
berjalan yang telah menurun dan neraca pembayaran yang kembali mengalami surplus. (media/ac)

Comment: BI memutuskan untuk mempertahankan BI rate di level 5,75 persen, kita menilai hal ini masih konsisten dengan inflasi yang rendah
dan terkendali untuk target pada tahun 2012 dan 2013, yakni 3,5 menjadi 5,5 persen. Selain itu, kita berpikir bahwa dengan BI rate dan suku
bunga berada di atas inflasi, Indonesia masih dapat menikmati pengembalian bunga positif yang nyata karena tidak termakan oleh inflasi.
Kami melihat BI harus fokus untuk mempertahankan kebijakan untuk menjaga keseimbangan eksternal untuk mendukung pertumbuhan
ekonomi, dan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk mengelola permintaan domes tik dan meningkatkan neraca
pembayaran agar tetap sejalan dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Senin, 05 November 2012

Free Etrading Trial

Berikut adalah rating kinerja untuk dua puluh emiten terbesar di BEI dari sisi likuiditas (blue chip), berdasarkan laporan keuangan periode Sembilan Bulan 2012 (9M12). Data diurutkan berdasarkan total nilai perdagangan saham selama periode Kuartal III 2012 (Juli – September 2012), dari yang terbesar hingga yang terkecil:

No.
Ticker
Company
Rating
1
ASII
Astra International
A
2
BBRI
Bank BRI
AAA
3
BMRI
Bank Mandiri
AA
4
TLKM
Telkom
A
5
UNTR
United Tractors
BBB
6
BBCA
Bank BCA
A
7
BUMI
Bumi Resources
-
8
BBNI
Bank BNI
A
9
PGAS
Perusahaan Gas Negara
AA
10
TRAM
Trada Maritime
B
11
SMGR
Semen Gresik
AA
12
GGRM
Gudang Garam
BBB
13
ADRO
Adaro Energy
BBB
14
ITMG
Indo Tambangraya Megah
-
15
INDF
Indofood Sukses Makmur
A
16
INTP
Indocement Tunggal Prakasa
-
17
ASRI
Alam Sutera Realty
AA
18
ENRG
Energi Mega Persada
-
19
HRUM
Harum Energy
AA
20
KLBF
Kalbe Farma
AA

Catatan: Hingga tabel diatas dibuat, keempat emiten yakni BUMI, ITMG, INTP dan ENRG belum merilis laporan keuangannya masing-masing. Namun ratingnya akan diupdate jika perusahaan yang bersangkutan sudah merilis LK-nya.

Disclaimer: Penentuan rating diatas mengandung unsur opinion alias pendapat dari penulis, sehingga untuk memperoleh penilaian/rating yang lebih akurat, anda disarankan untuk meminta pendapat kedua (second opinion) dari analis lain, atau dari diri anda sendiri.

Minggu, 04 November 2012

Free ETRADING SECURITIES Software

Secara teknikal IHSG masih berada pada area konsolidasi namun tampak ada peluang teknikal rebound di akhir pekan ini, baik dari segi volume, MACD dan stochastic masih memberikan sinyal bearish pada IHSG walaupun penurunan sudah sedikit mulai terbatas. Untuk Minggu ini kami berikan rekomendasi BOW untuk mengantisipasi teknikal rebound di akhir pekan maupun minggu depan.